Berdamai dengan Turbulensi Pesawat

Pada sebuah penerbangan Jakarta - Pangkal Pinang dimana saya menjadi salah satu penumpang, saya mengalami pengalaman berharga. Penerbangan tersebut mengalami keterlambatan akibat cuaca buruk. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya para penumpang dipersilakan masuk ke pesawat.

Para awak pesawat menyambut dengan senyum ramah dan sapaan hangat. Sejatinya saya yang terlanjur kesal karena keterlambatan tadi, turut menyunggingkan senyum untuk membalas mereka. Setidaknya dengan begitu saya berharap perjalanan ini jadi menyenangkan.

Tak lama setelah lepas landas, saya merasa pesawat bergerak tidak sebagaimana mestinya. Lampu tanda peringatan sabuk pengaman menyala dan beberapa reaksi penumpang cukup panik. Para awak pesawat sibuk menenangkan para penumpang dan mengingatkan mereka untuk memakai sabuk pengaman.

Dari dalam kokpit, pilot memberitahukan pesawat mengalami turbulensi akibat cuaca buruk. Saya pun jadi teringat mengenai bahasan yang sering saya bawakan di beberapa talkshow saya di awal tahun ini tentang tahun naga air (tahun 2012 menurut kalender Tiongkok).

Jika dideskripsikan, naga air berarti naga yang mengandung elemen air. Naga di sini bisa dibilang seperti bungkusnya, dengan elemen air berlimpah yang terkandung di dalamnya. Udara atau angin yang merupakan salah satu ejawantah dari elemen air, dan naga adalah shio yang berelemen tanah.

Membayangkan tanah yang bercampur air, sehingga air menjadi keruh. Interpretasi “angin keruh” inilah yang mengartikan cukup banyak turbulensi dalam transportasi udara. Selang beberapa waktu, kondisi pesawat kembali normal.

saya menjadi lebih tenang. Pertama, sebuah penerbangan tentu telah melalui prosedur yang benar dan sebuah maskapai sudah pasti menugaskan para awak pesawat yang ahli di bidangnya. Para awak pesawat ini tentu memiliki maksud sama dengan para penumpang yang ingin terbang nyaman dan selamat sampai tujuan.

Jadi, alangkah baiknya kita menghargai mereka yang ingin melaksanakan tugas mereka sebaik mungkin dengan mendengarkan arahan dan petunjuk yang mereka sampaikan tanpa sentilan-sentilan yang terkesan meremehkan mereka. Terpikir pula di benak saya, seorang pilot yang mengendalikan pesawat ini seolah-olah menjadi pengandali nasib kami selama pesawat ini berada di udara.

Namun layaknya seorang manusia, pilot pun pasti mendapat kesulitan sama jika dihadapkan dengan fenomena alam, hingga muncul turbulensi pada badan  pesawat. Dan sebagai manusia ia memiliki maksud sama dengan kita yang menginginkan perjalanan aman dan nyaman.

Hal kedua yang muncul di dalam pemikiran saya bahwa pada ketinggian tertentu sesuai standar penerbangan tidak mungkin pesawat tiba tiba menghantam sesuatu dan hancur secara tiba-tiba.

Ketiga, seperti yang sudah saya sebutkan di awal, bahwa elemen air yang berlimpah di tahun naga air (baca: tahun 2012) akan menimbulkan cukup banyak turbulensi di udara. Jadi sebenarnya kejadian tadi (mungkin) sudah ada di dalam perkiraan saya.

Memaknai kejadian ini sepatutnya dengan keyakinan dan kepasrahan diri. Jika ini bukan akhir dari takdir, maka kami semua akan melalui turbulensi ini sebagaimana mestinya. Intinya rasa takut memang wajar dimiliki setiap manusia, dan alam adalah sesuatu di luar kuasa manusia, namun kita tidak perlu kalah terhadap rasa takut, dan tetaplah menjaga rasa damai di hati selama penerbangan. (Inflight Magazine)

1 komentar: